Sabak Tradisional Melawan Sabak Moderen

Sabak adalah buku tulis kuno yang digunakan untuk menulis sebelum adanya buku tulis digunakan secara luas. Sabak terbuat dari lempengan batu karbon yang dicetak lempengan segi empat dan ditulisi dengan menggunakan grip (mirip pensil). Sebelum digunakannya buku tulis yang terbuat dari kertas, sabak merupakan alat tulis wajib yang dimiliki siswa sekolah di Indonesia pada tahun 1960-an untuk alat bantu belajar tulis menulis. Sabak bukanlah peranti menyimpan berkas permanen. Alat ini hanya digunakan sementara waktu untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru yang kala itu menuntut siswa harus punya kemampuan menghafal. Setelah selesai, sabak dapat dihapus dan ditulisi dengan materi pelajaran lainnya, begitu seterusnya.

Di era serbadigital, keberadaan sabak sudah langka dan hanya dapat ditemukan di museum di antaranaya adalah Museum Pendidikan Indonesia di Kota Malang dan Museum Pendidikan Indonesia Yogyakarta.

Peran sabak sudah digantikan oleh sebuah peranti digital modern yang mirip dengan bentuk sabak, yaitu sabak digital atau komputer tablet. Sabak digital ini bukan hanya berfungsi sebagai peranti untuk tulis-menulis tetapi juga digunakan sebagai alat komunikasi dan komputer pribadi.

Dan kini SDN Kedunguter 01 sudah memiliki sebuah aplikasi pembelajaran yang diberi nama SABAK. Aplikasi yang diberikan oleh pemerintah ini cukup menarik dan baik untuk menunjang kegiatan pemebelajaran. Aplikasi ini dilengkepi dengan gambar animasi bergerak serta ringkasan materi membuat siswa akan tertarik untuk mengikuti pelajaranya. Aplikasi ini berisi materi untuk siswa Sekolah Dasar (SD) dari kelas 1 sampai kelas 6. dan berbagai mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, Bahasa Inggris dan lain-lain.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *